Kumpulan puisi pagi "Mentari"
"Senyum Pagi"
Senyuman pagi
Terkadang setiap malam aku merindu
Merindumu datang menghangatkan
Menghangatkan raga ku
Menghangatkan jiwaku
Kadang juga malam ku resah
Resah mencarimu
Resah memikirkanmu
Tapi di pagi ku
Aku menemukanmu
Yg menyinari alam semesta
Yg memberi kehangatan
Yg membias embun menjadi pelangi
Jadi sambutlah pagiku dengan senyummu
Senyum yg menyajikan kebahagiaan
Terkadang setiap malam aku merindu
Merindumu datang menghangatkan
Menghangatkan raga ku
Menghangatkan jiwaku
Kadang juga malam ku resah
Resah mencarimu
Resah memikirkanmu
Tapi di pagi ku
Aku menemukanmu
Yg menyinari alam semesta
Yg memberi kehangatan
Yg membias embun menjadi pelangi
Jadi sambutlah pagiku dengan senyummu
Senyum yg menyajikan kebahagiaan
Judul : Mentari
Isi :
Pagi yang indah...
Sang mentari muncul dari tidurnya
Menampakkan sinar kehangatan
Sinar yang penuh makna bagi kehidupan
Tanpa sentuhan hangat mu
Kehidupan akan musnah
Pagi yang cerah...
Pohon-pohon melambaikan ranting
Dia memberi sapaan keakraban
Bebatuan dan kerikil pun tersenyum
Oh tuhan....
Betapa hangat nya alam raya ini
Alam yang begitu luas
Selalu di hiasi sinar kehidupan
Izinkan ku bersahabat dengan sinar mu
Tanpa sinar mu mungkin ku tak hidup
Pagi yang indah...
Sang mentari muncul dari tidurnya
Menampakkan sinar kehangatan
Sinar yang penuh makna bagi kehidupan
Tanpa sentuhan hangat mu
Kehidupan akan musnah
Pagi yang cerah...
Pohon-pohon melambaikan ranting
Dia memberi sapaan keakraban
Bebatuan dan kerikil pun tersenyum
Oh tuhan....
Betapa hangat nya alam raya ini
Alam yang begitu luas
Selalu di hiasi sinar kehidupan
Izinkan ku bersahabat dengan sinar mu
Tanpa sinar mu mungkin ku tak hidup
Judul : Merindu Pagi
Isi : Sederet makna berjubah jingga
Membawa asa juga cita
Namun,terkadang orang lupa
Lupa pada indahnya pagi membuta
Membawa asa juga cita
Namun,terkadang orang lupa
Lupa pada indahnya pagi membuta
Lupa pada embun yang menyapa ramah
Lupa pada tiap tarikan nafas yang merubah lelah
Menyingsing gagah tanpa congkak
Mentari menyingsing kian merangkak
Waktu seakan terus bergerak
Fajar berlalu dengan sejenak.
Lupa pada tiap tarikan nafas yang merubah lelah
Menyingsing gagah tanpa congkak
Mentari menyingsing kian merangkak
Waktu seakan terus bergerak
Fajar berlalu dengan sejenak.
Tebal kabut menghapus luka
Dingin menyergap kedalam jiwa
Adakah rindu kian menyapa?
Pada titik temu rajut asmara
Dingin menyergap kedalam jiwa
Adakah rindu kian menyapa?
Pada titik temu rajut asmara
Judul : Secercah Cahaya Manfaat
Isi :
Isi :
Detik waktu terus menari
Menghadirkan cahaya mentari
Menciptakan panorama yang asri
Menghadirkan cahaya mentari
Menciptakan panorama yang asri
Banyak insan memaki ketika kau menyengat
Memaki ketika kau menyayat
Tanpa melihat manfaat yang kau buat
Tanpa membayangkan jika dirimu tak akan terlihat
Memaki ketika kau menyayat
Tanpa melihat manfaat yang kau buat
Tanpa membayangkan jika dirimu tak akan terlihat
Denganmu aku belajar
Wahai mentari yang banter
Kau memberi manfaat tanpa berdasar
Dalam kegelapan, kau bagaikan bulan yang berbinar-binar.
Wahai mentari yang banter
Kau memberi manfaat tanpa berdasar
Dalam kegelapan, kau bagaikan bulan yang berbinar-binar.
Judul: Setia Menyambut Mentari
Isi:
Isi:
Kesetiaanku bisa kau uji di setiap pagi.
Kau lihat aku, betapa setianya menyambut mentari.
Padahal, dikala mentari mulai beranjak ke atas.
Kehangatannya semakin sangar terasa.
Kau lihat aku, betapa setianya menyambut mentari.
Padahal, dikala mentari mulai beranjak ke atas.
Kehangatannya semakin sangar terasa.
Tapi selalu kunikmati, binar cahyanya.
Karena kuyakin, dikala sore merajalela.
Kelembutan langit mampu meredam kesangarannya.
Karena kuyakin, dikala sore merajalela.
Kelembutan langit mampu meredam kesangarannya.
Keindahan mulai selimuti sinarnya.
Warnai setiap biasannya.
Dan memikat setiap mata.
Yang memandanginya.
Warnai setiap biasannya.
Dan memikat setiap mata.
Yang memandanginya.
Dan pabila dirinya mulai tenggelam.
Aku lebih memilih menikmati bentangan mimpi bersamanya.
Daripada aku harus menatapi sosok lain selain dirinya.
Aku lebih memilih menikmati bentangan mimpi bersamanya.
Daripada aku harus menatapi sosok lain selain dirinya.
Judul : *Alarm Tuhan*
Isi :
Isi :
Ketika fajar datang menerbit
Mulailah hilang Si Bunga bayang
Dari celah ufuk Timur Sang Nabastala
Menyergap masuk, indah di Nabastala
Mulailah hilang Si Bunga bayang
Dari celah ufuk Timur Sang Nabastala
Menyergap masuk, indah di Nabastala
Atma aksa mulai mendekat
Kaki-kaki merangkak kecil
Asta kuat menggenggam
Terbukalah jendela Sang Anindya
Kaki-kaki merangkak kecil
Asta kuat menggenggam
Terbukalah jendela Sang Anindya
Si lirik cantik mulai menerka
Buas melirik di tiap sudut
Soca itu memandang bulat
Saatnya telah tiba!
Buas melirik di tiap sudut
Soca itu memandang bulat
Saatnya telah tiba!
Mentari Sang Fajar
Alarm sejuta umat yang terlelap
Ini nikmat Tuhan sehabis gelap
Bergerak tergelincir, menjemput senja
Alarm sejuta umat yang terlelap
Ini nikmat Tuhan sehabis gelap
Bergerak tergelincir, menjemput senja
Judul: Matahari
Matahari
Tanpa lelah menyinari
Tanpa diminta datang ataupun pergi
Tanpa peduli walaupun dicaci maki
Tanpa lelah menyinari
Tanpa diminta datang ataupun pergi
Tanpa peduli walaupun dicaci maki
Tetap bersinar dengan cahayanya
Tetap menghangatkan dengan hangatnya
Tetap berjalan sesuai takdirnya
Tetap ada walaupun ada saja yang menyesalinya
Tetap menghangatkan dengan hangatnya
Tetap berjalan sesuai takdirnya
Tetap ada walaupun ada saja yang menyesalinya
Aku ingin seperti dia
Tetap tegar dengan pedihnya dunia
Menghapus sendiri air mata yang tersisa
Tetap sabar walaupun dihina
Tetap tegar dengan pedihnya dunia
Menghapus sendiri air mata yang tersisa
Tetap sabar walaupun dihina
Hidup tak berjalan sesuai mimpiku
Namun apa dayaku
Hanya manusia penuh ragu
Dengan semua harapanku
Namun apa dayaku
Hanya manusia penuh ragu
Dengan semua harapanku
Judul : Mentari Pagi
Isi :
Isi :
Mentari timur sudah bercahya
Pertanda pagi telah tiba
Awal perjuangan dan usaha
Menempuh hidup dari masa ke masa
Pertanda pagi telah tiba
Awal perjuangan dan usaha
Menempuh hidup dari masa ke masa
Mentari tepat diatas kepala
Dengan segelas air pelepas dahaga
Aku duduk di teras rumah
Melepas penat dan lelah
Dengan segelas air pelepas dahaga
Aku duduk di teras rumah
Melepas penat dan lelah
Mentari mulai condong ke barat
Semua orang berlalu lalang lewat
Membawa hasil kerja keras mereka
Berjalan pulang dengan bahagia
Semua orang berlalu lalang lewat
Membawa hasil kerja keras mereka
Berjalan pulang dengan bahagia
Semburat cahaya menerpa
Mega merah datanglah senja
Terima kasih mentari pagi
Aku harap besok kau datang lagi
Mega merah datanglah senja
Terima kasih mentari pagi
Aku harap besok kau datang lagi
Cirebon, 3 April 2019